Iseng-iseng buka situs Software Asli, didapatkan harga software yang sering dipakai secara umum, baik di Indonesia maupun di luar negeri, seperti MS Windows dan MS Office, ternyata harganya memang luar biasa mahal. Misalkan MS Windows XP Home SP2, harganya US$ 87 (atau sekitar Rp 800.000,00) . Tentu saja harga yang sulit dijangkau oleh kalangan menengah ke bawah, yang banyak juga memerlukan software-software tersebut karena penggunaan komputer sekarang bukanlah monopoli orang kaya saja. Padahal itu baru sistem operasinya saja. Tanpa yang lain-lain. Padahal software lainnya, jelas lebih mahal ketimbang software sistem operasinya.
Nah, berapa harga software tersebut dengan versi bajakan? Rp 20.000,00. Beda jauh bukan? Untuk perbandingan dengan software asli MS Windows XP Home SP2 saja, hanyalah 2,5%-nya.
Tentu saja menggunakan software bajakan tidaklah baik, menurut hukum, Tapi apa daya, dengan harga yang ratusan ribu, hanya untuk satu software saja, tentu membuat orang banyak berpikir untuk membeli software asli. Dengan harga yang jauh lebih rendah bisa membeli software yang sama, meski dnegan status hukum yang beda. Tapi apa peduli?
Solusi yang jelas bis adipakai untuk mengurangi pembajakan, tentu saja mengurangi harga software tersebut. Usulan naif? Nggak juga. Henry Ford pernah bermimpi untuk memperbanya produksi mobil sehingga harga mobil bisa semakin menurun dan bisa terjangkau. Matshusita, pendiri Panasonic juga berprinsip begitu. Nah, software-software tersebut diproduksi massal. Bahan bakunya tidak terlalu mahal, hanya sekeping-dua keping CD, kemudian buku petunjuk dan kemasan serta baiya cetaknya, maka bisa dibilang harga bahan baku dan produksinya tidak terlalu tinggi. Tapi yang tinggi, mungkin biaya intelektual atas penciptaan software tersebut. Ini yang harus dipahami oleh para pembuat software yang mahal.
Ingat, dengan kualitas yang sebenarnya setara, beberapa software justru bisa didapatkan dengan biaya nol (free). Bahkan untuk bisa menyebarkan softwarenya, ada ang harus nombok biaya shipping, seperti Canonical, yang menggratiskan, sampai biaya pengiriman, CD Linux Ubuntu-nya.
Bukan berarti tidak menghargai jerih payah inteektual para pembuat software. Tapi tingginya angka pembajakan rasanya patut diduga karena terlalu tingginya uang yang harus dikeluarkan untuk membeli software-software tersebut. Jalan tengah yang bisa diambil, menurut saya, adalah turunkan harga software-software resmi tersebut. Kalau memang harga yang dicapai bisa seekonomis mungkin, sesuai hukum pasar, saya yakin pembajakan itu bisa berkurang. Isn’t it?